Langsung ke konten utama

RESENSI BUKU DUA YANG SATU

Pada suatu hari, seorang yang fanatik Muhammadiyah tertidur pulas. Dalam tidurnya, dia bermimpi masuk surga. Betapa kagetnya dia, ketika jalan-jalan mengitari taman-taman surga nan indah itu berjumpa dengan seorang Kiai NU yang sangat fanatik. Seraya bergumam “saya heran, kamu kok ada di sini, padahal kamu kan suka tahlilan, baca ushalli dan qunut??”. Kiai NU pun menyahut, “saya juga heran, mengapa orang yang tak pernah ikut tahlilan, tak pernah baca ushalli dan qunut seperti kamu kok bisa masuk surga?
Itulah sedikit guyonan Amien Rais yang tersaji secara lugas pada awal-awal halaman buku yang diterbitkan oleh MIZAN ini, sangat menghibur. Pesan yang disampaikan pun benar, siapa saja Insya Allah akan masuk surga sepanjang dia menjalankan agama dengan baik. Ilustrasi ini sebenarnya disuguhkan untuk pernyataan bahwa perbedaan atribut bukanlah menjadi alasan dalam mempersatukan anak bangsa. Bukan kah perbedaan itu adalah rahmat.

Buku ini juga mengupas beberapa hal mengapa Muhammadiyah dan NU berbeda. Pertama adalah gesekan kultural, gerakan tajdid yang di usung oleh Muhammadiyah mencoba membersihkan ajaran Islam dari unsur budaya lokal yang dianggap TBC (Takhayul, Bid’ah dan Churafat). Dengan asumsi bahwa hal itulah yang bisa memperlambat kemajuan umat Islam, gerakan purifikasi yang diikuti penggalakkan pendidikan modern. Sebaliknya di pihak NU yang menganggap bahwa unsur-unsur budaya itu bisa memperkaya aplikasi ajaran-ajaran Islam. Dalam konteks ini, meskipun banyak yang meragukan, tampaknya tidak terlalu salah bagi yang berpendapat bahwa kelahiran NU (1926) secara tidak langsung merupakan respons (antitesis) dari gerakan Muhammadiyah yang sudah lama lahir (1912).

Menurut Clifford Geertz, seperti yang tertulis dalam buku dengan 174 halaman ini. Gerakan struktural merupakan lanjutan dari gerakan kultural. NU yang pada awalnya merupakan gerakan kultural menjelma menjadi gerakan struktural sejak pendirian partai politik. Muhammadiyah pun demikian, mulai menyentuh ranah struktural ketika bergabung dengan Masyumi. Di sinilah persoalan kedua menguak, dalam pemahaman dan aplikasi keagamaan saja belum tuntas, muncul gesekan baru. Kemudian dengan hadirnya pemerintah sebagai pihak ketiga, merubah gesekan itu semakin kental. Sukarno dalam konsep Nasakom yang lebih mengakomodasi NU dan mengabaikan Muhammadiyah. Sebaliknya, pada masa Suharto setelah munculnya Golkar, lebih mengakomodasi Muhammadiyah dan atau kalangan Islam yang lebih dekat dengan Muhammadiyah daripada NU. Sampai di sini, ketegangan itu menjadi lebih “sempurna”, secara kultural dan struktural.

Namun dewasa ini, Muhammadiyah dan NU sama-sama bertekad untuk memperjuangkan reformasi di segala bidang. Artinya, sampai di sini gesekan, ketegangan atau apapun istilahnya yang memicu pertentangan hanyalah bersifat memanfaatkan kondisi oleh ambisi segelintir orang untuk berkuasa. Pada akhirnya akan merugikan Muhammadiyah dan NU sendiri.

Selanjutnya, buku yang terdiri dari beberapa penulis ini lebih mengutamakan adanya persatuan dalam mengayomi umat, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, dengan tidak mudah terpancing dan terprovokasi. Demi tercapainya rahmat dalam perbedaan tersebut.
Judul buku pun seolah mempersatukan kedua Ormas ini tanpa merendahkan salah satu pihak. Dua yang satu, merujuk kepada pemikiran Albert Camus, “sebuah lambang selalu melampaui orang yang menggunakannya dan dalam kenyataan membuat dia berkata lebih daripada yang hendak dia jelaskan”. Cover buku ini yang bergambar setangkai bunga dengan paduan lambang Muhammadiyah dan NU juga menjelaskan maksud untuk merintis sebuah “jalan” yang dapat ditempuh bersama-sama, atau memperjelas “arah yang satu” yang kemungkinan ingin dituju oleh Muhammadiyah dan NU. (re)

Komentar